Main Article Content

Abstract

Indonesia sebagai maritime continent mempunyai banyak awan di atmosfer, diantaranya awan
cumulonimbus (Cb), akan tetapi tidak semua awan konvektif tersebut berpotensi hujan. Dalam
mengetahui keterkaitan antara awan dan angin yang berpotensi hujan, dilakukan pengintegrasian
posisi awan Cb terhadap curah hujan di permukaan sesuai algoritma/threshold dengan
menggunakan data satelit dan data observasi di wilayah Jawa Barat. Data yang digunakan adalah
data setiap jam pada tanggal 14, 15, 16, dan 17 Maret 2013 dari Multi-functional Transport Satellitte
(MTSAT IR1 dan IR2) awan Cb spasial serta angin dan curah hujan in-situ dari Automatic Weather
Station (AWS). Data tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis curah hujan di permukaan
hasil integrasi antara awan Cb dan angin berbasis data space based. Berdasarkan hasil diperoleh
bahwa kecepatan angin di permukaan terlihat meningkat sebelum munculnya awan cumulonimbus
(Cb) dengan nilai indeks enam (6) yaitu awan cumulonimbus. Setelah awan cumulonimbus muncul, 1
atau 2 jam kemudian turunlah hujan khususnya pada pengamatan tanggal 16 Maret 2013 pukul 16-
22 waktu setempat dan lamanya hujan sekitar 5 jam.

Article Details