Main Article Content

Abstract

Waktu tunda respon ionosfer terhadap badai geomagnet berbeda-beda tergantung intensitas badai geomagnetnya sehingga sulit untuk memperkirakan waktu tunda respon ionosfer. Kondisi inilah yang menjadi permasalahan bagi peneliti di Pussainsa-LAPAN dalam kegiatan SWIFtS. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut maka dibuatlah model. Salah satunya yang telah dibuat adalah model empiris badai ionosfer oleh Araujo-Pradere et al. (2002) dan model numerik badai ionosfer oleh Santoso et al. (2016). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji akurasi kedua model badai ionosfer tersebut terhadap badai geomagnet. Studi kasus dilakukan saat badai geomagnet 20 Januari 2016, 14 April 2006, 24 dan 31 Agustus 2005 serta 11 September 2005. Data indeks Dst dan foF2 dari BPAA Sumedang pada tanggal tersebut diolah dan dianalisis. Hasilnya diperoleh bahwa baik model empiris badai ionosfer maupun numerik sama-sama masih layak digunakan untuk kegiatan estimasi badai ionosfer foF2 di BPAA Sumedang. Namun, secara umum model numerik memiliki keakuratan dan kelebihan yang relatif lebih baik dibandingkan model empiris. Hal ini ditunjukkan dengan nilai deviasi foF2SMD model terhadap pengamatan kurang dari 30%, pada kejadian badai geomagnet 14 April 2006 (foF2SMD = 27,1%), 24 Agustus (foF2SMD = -9,2%) dan 31 Agustus 2005 (foF2SMD = 9,4%). Demikian juga dengan nilai deviasi ∆Tpeak foF2SMD model kurang dari 30% untuk kejadian badai geomagnet 20 Januari 2016 (∆tpeak foF2SMD = -2,7%) dan 24 Agustus 2005 (∆tpeakfoF2SMD = 25,7%) sehingga model foF2SMD lebih layak untuk dipergunakan dalam kegiatan permodelan.

Article Details